Mulai dari diri
Untuk direnungkan dan dilakukan
Interpretasi terhadap pemikiran KiHajar Dewantara
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran yang paling mendasar adalah tentang konsep budi pekerti yang tertuang dalam sebuah semboyan yang berbunyi yaitu " ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " yang memberi makna sangat mendalam tentang sebuah figur dan sosok seorang pendidik dan pengajar dalam mengartikan perannya dihadapan para murid. bahwasannya bagaimana sosok guru dapat memberi teladan ketika berada didepan mampu memberi inspirasi bagi siswanya menjadi contoh yang bernilai positif dan bisa dipercaya serta berdedikasi demi kemajuan pendidikan. memberi semangat dan motivasi yang berharga ketika berada diantara para siswa untuk kemajuan proses belajar menguatkan ketika siswa sedang lemah dan kehilangan semangat agar terus terpacu untuk belajar . dan menjadi bagian yang sangat penting ketika berada dibelakang untuk terus mendorong maju menuju suatu perubahan nyata sehingga apa yang menjadi cita-cita dan harapan masa depan pendidikan dapat terwujud.
Hubungan
pemikiran KHD dengan konteks pendidikan saat ini relevansinya belum terlihat
nyata dan sempurna bahkan semangat semboyan KI Hajar Dewantara seolah semakin
memudar. praktik-praktik baik pengajaran yang berlandaskan filosofi KHD tidak
diterapkan secara nyata. pengalaman pengalaman pembelajaran tidak lagi dimaknai
secara kontekstual. guru tidak lagi memperlakukan siswa sebagai manusia yang
berkembang sesuai kodratnya tetapi lebih kepada keinginan yang memaksa agar
siswa mampu melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan minat dan
bakatnya. hal ini terjadi karna guru belum mampu merefleksikan konsep pemikiran
dan filosofi pengajaran yang diinginkan oleh KHD. hati jiwa dan pemikiran siswa
belum dimerdekakan mereka harus melakukan kehendak sang guru begitupun
sebaliknya sang guru tidak memerdekakan dirinya untuk bisa memberi pengajaran
yang ada dalam benak mereka karna lebih berfokus pada sumber sumber belajar dan
rencana belajar yang telah ditetapkan tanpa menelusuri terlebih dahulu minat
belajar para siswa . konteks pendidikan disekolah saya juga mengalami hal yang
sama konsep pembelajaran yang belum merdeka masih menganut asas guru sebagai
pusat belajar sehingga hasil belajar yang diperoleh masih belum bermakna yang
sesungguhnya.
Aktifitas
saya sebagai guru sudah saya laksanakan dengan baik berbagai upaya telah saya
lakukan untuk mewujudkan pemikiran KHD namun dengan segala keterbatasan yang
ada antara saya sebagai guru pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan
orang tua siswa dan siswa itu sendiri terkadang saya mengalami kesulitan untuk
melakukan kemerdekaan saya sebagai pengajar. konsep-konsep dalam benak saya
tidak dapat saya sematkan kedalam rencana mengajar saya karna ruang lingkup
yang terbatas.
Harapan
saya sebagai seorang pendidik yaitu: dapat menerapkan filosofi pemikiran Ki
Hajar Dewantara dalam aktifitas mengajar, dapat memberi pengaruh positif
terhadap siswa maupun teman sejawat, mampu menggali potensi yang dimiliki oleh
siswa dan mengembangkan potensi pada diri siswa tersebut menjadi sebuah
kekuatan masa depannya , bersama guru yang lainnya menciptakan kerjasama yang
baik berkolaborasi dengan penuh semangat memajukan sekolah dan komunitas
pendidikan. mampu menjadi pemimpin pembelajar yang penuh dedikasi bagi kemajuan
pendidikan.
harapan saya pada
murid-murid saya yaitu: dapat mengembangkan potensi dan bakat yang mereka
miliki, mampu mengenali kemampuan diri , tangguh menghadapi tantangan, dapat
menyelesaikan masalah sendiri dengan kemandirian , berpikir kritis dan bernalar
baik .
MISKONSEPSI
PAHAM “ TABULA RASA “
TERHADAP
FILOSOFI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
Murid
adalah peserta didik saya sendiri. Murid adalah sebuah pribadi dalam lingkup
sekolah yang terlibat langsung dalam sebuah pembelajaran dikelas dan memiliki
kesempatan untuk belajar, berkembang dan berproses bersama-sama dengan murid
yang lainnya.
Yang saya
pahami tentang murid dalam proses pembelajaran di sekolah adalah bahwa murid
sangat identik dengan sebuah paham yang sering disebut oleh kebanyakan orang
adalah tentang paham Tabula Rasa yang kemudian saya sadari bahwa paham tersebut
adalah sebuah miskonsepsi terhadap proses pengenalan saya terhadap siswa.
Tabula
Rasa ( dari bahasa latin kertas kosong ) merujuk pada pandangan epistemologi
bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan dengan kata lain kosong dan
seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman
dan persepsi alat inderanya terhadap dunia diluar dirinya ( john locke abad 17
). Dalam filosofi Locke, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran manusia ketika
lahir berupa kertas kosong tanpa aturan untuk memroses data dan data yang
ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat
inderanya.
Pemahaman
tentang Tabula Rasa ini menganggap murid adalah sebuah obyek yang masih kosong
atau secarik kertas kosong yang kemudian tugas adalah menuliskan atau
mencoret-coret kertas kosong itu sesuka hati guru tanpa mengenali kodrat murid
yang adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berbagai
perbedaan dan kekurangan kelebihan yang telah dianugerahkan oleh sang pencipta.
Sehingga didalam penerapan proses belajar di kelas yang saya harapkan adalah
kemampuan yang sama, cara yang sama dengan hasil belajar yang sama pula bagi
setiap murid karna keinginan saya adalah seluruh siswa berhasil dalam
pembelajaran di kelas tanpa mengenali terlebih dahulu minat belajar, kemampuan
dalam menyerap materi belajar dan rasa nyaman serta kebahagiaan mereka pada
saat berada dalam ruang belajar di kelas.
Miskonsepsi
saya tentang murid dan pembelajaran tersebut akhirnya di cerahkan oleh
pemahaman saya terhadap filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep
pendidikan dan pengajaran yang
diterapkan oleh Taman Siswa. Tujuan pendidikan menurut pemikiran Ki Hajar
Dewantara adalah menciptakan manusia yang merdeka baik secara fisik, mental dan
kerohanian. Sendi-sendi pendidikan dan pengajaran KI Hajar Dewantara yang
mengubah miskonsepsi saya terhadap murid adalah sendi kodrat alam dan sendi
kemerdekaan. Dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaraan hendaknya selalu
diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik baik mengenai hidup diri
pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya jangan sampai meninggalkan segala
kepentingan yang berhubungan dengan kodrat anak sehingga pendidikan dan
pengajaran yang berorientasi pada anak merupakan sendi yang utama pada sistem
pendidikan dan pengajaran Ki Hajar Dewantara.
Pendidikan
itu memerdekakan. Sesuai dengan asas taman siswa yaitu bebas dari segala
ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak,
namun untuk berhamba pada sang anak. Kemerdekaan yang dimaksud Ki Hajar
Dewantara adalah kemerdekaan yang tertib dan damai di masyarakat jiwa siswa
melancarkan proses Tringa (ngerti, ngrasa, nglakoni ) yang selaras dengan
Trilogi cipta, rasa dan karsa.
Dengan
bercermin pada pemikiran filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan
pengajaran maka miskonsepsi saya terhadap pemahaman Tabula Rasa dalam penerapan
belajar di kelas dapat saya ubah menjadi konsep pengajaran yang benar tentang
analogi bahwa anak adalah bagai secarik kertas kosong namun bukan hak seorang
guru untuk menuliskan dan mencoret-coret sesuai keinginan dan harapannya namun
memberi kemerdekaan dan kebebasan kepada anak untuk menulis dan mencoret
sendiri kertas diri mereka sesuai kemauannya berdasarkan minat, bakat, potensi,
gaya belajar dan rasa nyaman bahagia mereka. Tugas saya adalah menuntun mereka
menuju keselamatan hidup mereka yang telah di kodratkan oleh sang pencipta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar