Sabtu, 28 November 2020

refleksi filosofi pemikiran kihajar dewantara



 

Mulai dari diri

Untuk direnungkan dan dilakukan

Interpretasi terhadap pemikiran KiHajar Dewantara

 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran  yang paling mendasar adalah tentang konsep budi pekerti yang tertuang dalam sebuah semboyan yang berbunyi yaitu " ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " yang memberi makna sangat mendalam tentang sebuah figur dan sosok seorang pendidik dan pengajar dalam mengartikan perannya dihadapan para murid. bahwasannya bagaimana sosok guru dapat memberi teladan ketika berada didepan mampu memberi inspirasi bagi siswanya menjadi contoh yang bernilai positif dan bisa dipercaya serta berdedikasi demi kemajuan pendidikan. memberi semangat dan motivasi yang berharga ketika berada diantara para siswa untuk kemajuan proses belajar menguatkan ketika siswa sedang lemah dan kehilangan semangat agar terus terpacu untuk belajar . dan menjadi bagian yang sangat penting ketika berada dibelakang untuk terus mendorong maju menuju suatu perubahan nyata sehingga apa yang menjadi cita-cita dan harapan masa depan pendidikan dapat terwujud.

Hubungan pemikiran KHD dengan konteks pendidikan saat ini relevansinya belum terlihat nyata dan sempurna bahkan semangat semboyan KI Hajar Dewantara seolah semakin memudar. praktik-praktik baik pengajaran yang berlandaskan filosofi KHD tidak diterapkan secara nyata. pengalaman pengalaman pembelajaran tidak lagi dimaknai secara kontekstual. guru tidak lagi memperlakukan siswa sebagai manusia yang berkembang sesuai kodratnya tetapi lebih kepada keinginan yang memaksa agar siswa mampu melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan minat dan bakatnya. hal ini terjadi karna guru belum mampu merefleksikan konsep pemikiran dan filosofi pengajaran yang diinginkan oleh KHD. hati jiwa dan pemikiran siswa belum dimerdekakan mereka harus melakukan kehendak sang guru begitupun sebaliknya sang guru tidak memerdekakan dirinya untuk bisa memberi pengajaran yang ada dalam benak mereka karna lebih berfokus pada sumber sumber belajar dan rencana belajar yang telah ditetapkan tanpa menelusuri terlebih dahulu minat belajar para siswa . konteks pendidikan disekolah saya juga mengalami hal yang sama konsep pembelajaran yang belum merdeka masih menganut asas guru sebagai pusat belajar sehingga hasil belajar yang diperoleh masih belum bermakna yang sesungguhnya.

Aktifitas saya sebagai guru sudah saya laksanakan dengan baik berbagai upaya telah saya lakukan untuk mewujudkan pemikiran KHD namun dengan segala keterbatasan yang ada antara saya sebagai guru pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan orang tua siswa dan siswa itu sendiri terkadang saya mengalami kesulitan untuk melakukan kemerdekaan saya sebagai pengajar. konsep-konsep dalam benak saya tidak dapat saya sematkan kedalam rencana mengajar saya karna ruang lingkup yang terbatas. 

Harapan saya sebagai seorang pendidik yaitu: dapat menerapkan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam aktifitas mengajar, dapat memberi pengaruh positif terhadap siswa maupun teman sejawat, mampu menggali potensi yang dimiliki oleh siswa dan mengembangkan potensi pada diri siswa tersebut menjadi sebuah kekuatan masa depannya , bersama guru yang lainnya menciptakan kerjasama yang baik berkolaborasi dengan penuh semangat memajukan sekolah dan komunitas pendidikan. mampu menjadi pemimpin pembelajar yang penuh dedikasi bagi kemajuan pendidikan.

harapan saya pada murid-murid saya yaitu: dapat mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki, mampu mengenali kemampuan diri , tangguh menghadapi tantangan, dapat menyelesaikan masalah sendiri dengan kemandirian , berpikir kritis dan bernalar baik .

MISKONSEPSI PAHAM “ TABULA RASA “

TERHADAP FILOSOFI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

 

            Murid adalah peserta didik saya sendiri. Murid adalah sebuah pribadi dalam lingkup sekolah yang terlibat langsung dalam sebuah pembelajaran dikelas dan memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang dan berproses bersama-sama dengan murid yang lainnya.

            Yang saya pahami tentang murid dalam proses pembelajaran di sekolah adalah bahwa murid sangat identik dengan sebuah paham yang sering disebut oleh kebanyakan orang adalah tentang paham Tabula Rasa yang kemudian saya sadari bahwa paham tersebut adalah sebuah miskonsepsi terhadap proses pengenalan saya terhadap siswa.

            Tabula Rasa ( dari bahasa latin kertas kosong ) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan dengan kata lain kosong dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia diluar dirinya ( john locke abad 17 ). Dalam filosofi Locke, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran manusia ketika lahir berupa kertas kosong tanpa aturan untuk memroses data dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya.

            Pemahaman tentang Tabula Rasa ini menganggap murid adalah sebuah obyek yang masih kosong atau secarik kertas kosong yang kemudian tugas adalah menuliskan atau mencoret-coret kertas kosong itu sesuka hati guru tanpa mengenali kodrat murid yang adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berbagai perbedaan dan kekurangan kelebihan yang telah dianugerahkan oleh sang pencipta. Sehingga didalam penerapan proses belajar di kelas yang saya harapkan adalah kemampuan yang sama, cara yang sama dengan hasil belajar yang sama pula bagi setiap murid karna keinginan saya adalah seluruh siswa berhasil dalam pembelajaran di kelas tanpa mengenali terlebih dahulu minat belajar, kemampuan dalam menyerap materi belajar dan rasa nyaman serta kebahagiaan mereka pada saat berada dalam ruang belajar di kelas.

            Miskonsepsi saya tentang murid dan pembelajaran tersebut akhirnya di cerahkan oleh pemahaman saya terhadap filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan dan pengajaran  yang diterapkan oleh Taman Siswa. Tujuan pendidikan menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah menciptakan manusia yang merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Sendi-sendi pendidikan dan pengajaran KI Hajar Dewantara yang mengubah miskonsepsi saya terhadap murid adalah sendi kodrat alam dan sendi kemerdekaan. Dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaraan hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat anak sehingga pendidikan dan pengajaran yang berorientasi pada anak merupakan sendi yang utama pada sistem pendidikan dan pengajaran Ki Hajar Dewantara.

            Pendidikan itu memerdekakan. Sesuai dengan asas taman siswa yaitu bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak. Kemerdekaan yang dimaksud Ki Hajar Dewantara adalah kemerdekaan yang tertib dan damai di masyarakat jiwa siswa melancarkan proses Tringa (ngerti, ngrasa, nglakoni ) yang selaras dengan Trilogi cipta, rasa dan karsa.

            Dengan bercermin pada pemikiran filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran maka miskonsepsi saya terhadap pemahaman Tabula Rasa dalam penerapan belajar di kelas dapat saya ubah menjadi konsep pengajaran yang benar tentang analogi bahwa anak adalah bagai secarik kertas kosong namun bukan hak seorang guru untuk menuliskan dan mencoret-coret sesuai keinginan dan harapannya namun memberi kemerdekaan dan kebebasan kepada anak untuk menulis dan mencoret sendiri kertas diri mereka sesuai kemauannya berdasarkan minat, bakat, potensi, gaya belajar dan rasa nyaman bahagia mereka. Tugas saya adalah menuntun mereka menuju keselamatan hidup mereka yang telah di kodratkan oleh sang pencipta.

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar