Kamis, 17 Desember 2020

budaya positif di sekolah ( pembuatan kesepakatan kelas )

 

Tugas aksi nyata modul 1.4

Menerapkan budaya positif di sekolah

PGP -1 – KABUPATEN PARIGI MOUTONG – KADEK SUPRAPTO – 1.4 – AKSI NYATA

 

 

Latar belakang

            Menurut  Ki Hadjar pendidikan adalah pembudayaan buah dan budi manusia yang beradap dua kekuatan yang selalu mengelilingi manusia yaitu kodrat alam dan jaman atau masyarakat. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karna itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri.

            Terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar positif, dan mandiri. Kita sebagai pendidik harus mengetahui posisi kontrol guru yang tepat. Selama ini hukuman merupakan bentuk pembelajaran disiplin kepada murid bagi sebagian guru, padahal mempunyai arti berbeda. Hukuman adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum hukuman adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan yang berpengaruh kepada karakter murid dan tidak baik untuk psikologis anak. Disipli positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat santun dan toleran. Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif untuk mempromosikan perilaku yang baik. Hal ini melibatkan memberikan murid pedoman yang jelas untuk perilaku apa yang dapat diterima dan kemudian mendukung mereka ketika belajar untuk mematuhi pedoman ini.

            Upaya membangun budaya positif disekolah guru harus bekerja sama dengan kepala sekolah serta orang tua sebagai guru harus memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada murid, melibatkan dan bekerja sama dengan orang tua dalam penerapan disiplin positif. Kepala sekolah harus memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah serta mendukung dan mengawasi keterlibatan orang tua dalam menerapkan disiplin positif agar perilaku yang diharapkan dapat di budayakan secara konsisten. Oleh karena itu posisi kontrol guru sebagai manager adalah sangat diperlukan dalam menerapkan budaya positif di sekolah. Budaya positif di kelas dapat dikembangkan dengan membuat kesepakatan kelas sebagai langkah kesepakatan bersama antara murid dengan murid dan atau antara murid dan guru.

            Budaya positif yang saya terapkan di sekolah adalah membuat kesepakatan kelas bersama dengan murid kelas enam yang saya ampu tentang kelas impian mereka pada awal proses pembuatan kesepakatan kelas saya terlebih dahulu menanyakan pendapat kepada murid saya secara individu namun dalam ruang kelas sehingga pendapat mereka masing-masing secara langsung terungkap di hadapan murid yang lain dengan tujuan bahwa pendapat murid saya secara langsung dapat di dengar oleh murid yang lainnya cara ini saya gunakan dengan maksud mendengar langsung kejujuran mereka dalam membuat kesepakatan dari dalam diri mereka secara pribadi. Lalu kemudian satu persatu murid saya tanyakan pendapatnya tentang kesepakatan apa yang mereka mau buat dengan cara menuliskan pendapat mereka masing-masing pada selembar karton yang sudah saya tempel terlebih dahulu di depan kelas dengan menulis masing-masing nama mereka di atas karton tersebut setiap murid saya perintahkan maju kedepan dan menuliskan pendapat mereka masing-masing. Semua murid menulis kesepakatan mereka diatas karton itu pendapat mereka beragam dan berbeda namun ada beberapa yang menuliskan pendapat mereka sama itu berarti bahwa mereka menyepakati hal yang sama terhadap kelas impian yang mereka harapkan nanti. Setelah murid saya melewati tahap membuat kesepakatan kelas diawal dan selesai memberikan pendapat mereka masing-masing saya mengajak murid saya mengambil kesimpulan dari ide-ide mereka tersebut untuk kemudian saya ubah menjadi kesepakatan kelas secara bersama-sama setelah kesepakatan itu disetujui oleh semua murid saya dan diakhir proses pembuatan kesepakatan kelas saya sarankan murid saya menanda tangani kesepakatan itu untuk menjadikan kesepakatan itu sah bersama dan menjadikan kesepakatan itu budaya positif yang hendak mereka lakukan dalam rutinitas belajar mereka di sekolah secara mandiri dan konsisten dengan harapan bahwa kesepakatan itu menjadi bentuk aturan bersama yang wajib dipatuhi tanpa menerapkan sanksi atau hukuman karna kesepakatan itu mereka buat atas dasar kesadaran mereka masing-masing tanpa merasa terbeban dengan konsekuensi yang mereka akan terima nanti.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar